Morotai Bersih, Cermin Budaya dan Peradaban
Stevi | 15 Oktober 2026 | Dibaca 20 kali |

ASN Pemkab Pulau Morotai saat melaksanakan kegiatan pembersihan di Area CBD

Morotai - Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai terus mengintensifkan kegiatan bersih-bersih di kawasan Kota Daruba. Selain sebagai bagian dari persiapan menyambut Morofest, kegiatan ini merupakan wujud komitmen Pemerintahan Rusli Sibua–Rio C. Pawane sejak awal pemerintahan definitif untuk memastikan Kota Daruba tetap bersih, tertata, dan indah.

Kegiatan bakti kebersihan ini dilaksanakan secara konsisten setiap pekan, dengan waktu pelaksanaan yang menyesuaikan agenda, terkadang pada hari Kamis, Jumat, maupun Minggu. Para Aparatur Sipil Negara (ASN) terlibat langsung dalam aksi bersih-bersih di sejumlah kawasan strategis Kota Daruba, terutama di sekitar Central Business District (CBD), Pantai Armydok dan kawasan sekitarnya. 

Konsistensi ini menegaskan bahwa menjaga kebersihan kota bukan sekadar agenda menjelang kegiatan tertentu, melainkan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk merawat wajah ibu kota Kabupaten Pulau Morotai. Dalam perspektif filosofis, kebersihan sesungguhnya bukan hanya perkara sampah yang dikumpulkan atau lingkungan yang ditata, melainkan cerminan cara manusia menghargai kehidupan dan ruang bersama. 

Kota yang bersih lahir dari kesadaran bahwa lingkungan bukan semata-mata tempat untuk beraktivitas, tetapi juga warisan yang harus dijaga demi kepentingan generasi mendatang. Peradaban tidak hanya terlihat dari megahnya bangunan dan pesatnya pembangunan, tetapi juga dari kesediaan masyarakat menjaga hal-hal sederhana yang menentukan kualitas hidup bersama. Sebab, kota yang indah tanpa kesadaran warganya untuk merawat kebersihan hanya akan menjadi keindahan yang rapuh.

Pemikiran filsuf dan pendidik Amerika, John Dewey, dalam bukunya Democracy and Education (1916), menekankan pentingnya pengalaman dan lingkungan sosial dalam membentuk kebiasaan manusia. Gagasan tersebut dapat kita refleksikan dalam gerakan kebersihan di Morotai: budaya bersih tidak lahir hanya dari slogan atau imbauan, tetapi tumbuh melalui tindakan nyata yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan bersama. Ketika ASN memberikan teladan, masyarakat ikut berpartisipasi, dan setiap orang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan, kebersihan akan berkembang dari sebuah kegiatan menjadi karakter sosial. 


Dengan demikian, bakti kebersihan bukan sekadar membersihkan kota, melainkan juga membangun kesadaran dan mendidik masyarakat melalui keteladanan. Namun, menjaga kebersihan kota bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan kesadaran dan partisipasi seluruh masyarakat. Karena itu, mari kita mulai dari hal sederhana: membuang sampah pada tempatnya, mengajak setiap orang untuk mencintai kebersihan, serta menjadikan lingkungan yang bersih sebagai budaya dan identitas daerah.

Kota yang bersih bukan hanya enak dipandang, tetapi juga mencerminkan karakter, kedisiplinan, dan kepedulian masyarakatnya. Morotai yang hebat tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan dan menjaga ruang hidup bersama. Pemerintah dapat menggerakkan, ASN dapat memberikan teladan, tetapi keberlanjutan budaya bersih sangat ditentukan oleh kesediaan seluruh masyarakat untuk mengambil bagian.

Mari jadikan Daruba bukan sekadar kota yang bersih saat ada kegiatan atau menjelang Morofest, melainkan kota yang senantiasa bersih karena kesadaran dan tanggung jawab bersama. Biarlah kebersihan menjadi kebiasaan, keindahan menjadi kebanggaan, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi identitas masyarakat Pulau Morotai.

Sebab, merawat kebersihan kota pada hakikatnya adalah merawat martabat daerah dan menjaga kualitas peradaban kita bersama.(*)

#MorotaiBersihMorotaiHebat #HumasDanKominfoPulauMorotai

BAGIKAN :